Dampak Tingginya Prevalensi TRICHURIS TRICHIURA Terhadap Kebijakan Pengobatan Massal Kecacingan Di Tiga SD di Kabupaten Tanah Bumbu

  • Paisal Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
  • Budi Hairani Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
  • Erly Haryanti Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
  • Listiana Indriyati Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu
Keywords: Trichuris trichiura, pengobatan massal, albendazol.

Abstract

Soil transmitted helminth (STH) is a neglected parasitic disease with a high prevalence in the world. The prevalence of STH in elementary school children in Indonesia was 31.8%, while the prevalence of STH for Tanah Bumbu District was 56.6%, with the most common species was T. trichiura (81%). The objectives of this study were to obtain STH prevalence rates for schoolchildren in SD Juku Eja, SD Sungai Lembu and SD Sepunggur, and to assess the conformity of the Ministry of Health's mass deworming policy with the most prevalence of worm species. The study was conducted in February 2015. The sample of the study was all elementary school students of class I-VI in selected schools. Fecal examination using the direct method. The statistical test using chi square test between the variables of worm infection and the variable of schools. Respondents were 348 people and a third (35.1%) were worm infected. Among the three schools, primary school with the highest infection regardless of worm species was SD Juku Eja (77%) followed by SD Lembu River (15.6%). There was a significant difference between the prevalence of worms for each elementary school. Among the 122 respondents who suffered from worms, 49.2% were single infections of T. trichiura. The mass deworming guidelines released by the Ministry of Health are slightly different from the effective treatment for T. trichiura infection, ie on the number of days of administration. In the Ministry of Health's mass deworming guidelines, albendazole was given a single dose while the specific treatment of T. trichiura infection, albendazole was given 3 times for 3 consecutive days. Because the dominant infection at this study was T. trichiura, it is recommended to change the dose of albendazole treatment in the mass treatment, from single dose administered to 3 times for 3 consecutive days.

Abstrak

Kecacingan merupakan penyakit parasit terabaikan yang banyak diderita oleh penduduk dunia. Prevalensi pada anak sekolah dasar di Indonesia sebesar 31,8%. Sedangkan untuk Kabupaten Tanah Bumbu, prevalensi kecacingan mencapai 56,6% dan spesies yang paling banyak ditemukan adalah T. trichiura (81%). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data prevalensi kecacingan pada anak sekolah di SD Juku Eja, SD Sungai Lembu, dan SD Sepunggur, Kabupaten Tanah Bumbu, kemudian menilai kesesuaian kebijakan pengobatan massal kecacingan Kementerian Kesehatan dengan prevalensi spesies cacing yang paling banyak ditemukan. Penelitian dilakukan pada Februari 2015. Sampel penelitian adalah seluruh siswa SD kelas I-VI di sekolah terpilih. Pemeriksaan tinja menggunakan metode langsung. Uji statistik menggunakan uji chi square antara variabel status kecacingan dengan variabel tempat bersekolah. Responden sebanyak 348 orang dan sepertiganya (35,1%) positif kecacingan. Dari ketiga sekolah, SD yang memiliki infeksi paling tinggi tanpa memandang spesies cacing adalah SD Juku Eja (77%) disusul SD Sungai Lembu (15,6%). Terdapat perbedaan bermakna antara kejadian kecacingan untuk setiap SD. Dari 122 orang responden yang mengalami kecacingan, sebanyak 49,2% adalah infeksi tunggal T. trichiura. Pedoman pengobatan massal kecacingan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan sedikit berbeda dengan pengobatan efektif untuk infeksi T. trichiura, yaitu pada jumlah hari pemberian. Pada pedoman pengobatan massal Kementerian Kesehatan, albendazol diberikan dosis tunggal sedangkan pengobatan spesifik infeksi T. trichiura albendazol diberikan 3 kali selama 3 hari berturut-turut. Karena infeksi dominan di lokasi penelitian adalah T. trichiura, disarankan untuk mempertimbangkan dosis pengobatan albendazol pada pengobatan massal, dari pemberian dosis tunggal menjadi pemberian sebanyak 3 kali selama 3 hari berturut-turut.

References

Awasthi, Shally, Richard Peto, Vinod K. Pande, Robert H. Fletcher, Simon Read, dan Donald A P Bundy. 2008. “Effects of Deworming on Malnourished Preschool Children in India: An Open-Labelled, Cluster-Randomized Trial.” PLoS Neglected Tropical Diseases 2 (4): 2–7.
Bethony, Jeffrey, Simon Brooker, Marco Albonico, Stefan M Geiger, Alex Loukas, David Diemert, dan Peter J Hotez. 2006. “Soil-Transmitted Helminth Infections: Ascariasis, Trichuriasis, dan Hookworm.” The Lancet 367 (9521): 1521–32.
Bisara, Dina, dan Mardiana. 2014. “Kasus Kecacingan Pada Murid Sekolah Dasar Di Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Tahun 2010.” Jurnal Ekologi Kesehatan 13 (3): 255–64.
BPS. 2016. Kabupaten Tanah Bumbu Dalam Angka. Tanah Bumbu: Badan Pusat Statistik.
Chadijah, Sitti, Phetisya Pamela Frederika Sumolang, dan Ni Nyoman Veridiana. 2014. “Hubungan Pengetahuan, Perilaku, Dan Sanitasi Lingkungan Dengan Angka Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Kota Palu” Media Litbangkes 24 (1): 50–56.
Hairani, Budi, dan Liestiana Indriyati. 2016. “Prevalensi Trichuriasis Pada Anak Di Sekolah Dasar Negeri Harapan Maju : Studi Kasus Di Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.” Jurnal Vektor Penyakit 10 (1): 25–32.
Juhairiyah, dan Annida. 2014. “Kebijakan Pengendalian Kecacingan Dan Pengetahuan Propinsi Kalimantan Selatan.” Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 17 (2): 185–92.
Kementerian Kesehatan. 2012. Pedoman Pengendalian Kecacingan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Mardiana, dan Djarismawati. 2008. “Prevalensi Cacing Usus Pada Murid Sekolah Dasar Wajib Belajar Pelayanan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan Daerah Kumuh Di Wilayah DKI Jakarta.” JEK 7 (2): 769–74.
Miguel, Edward, dan Michael Kremer. 2004. “Worms: Identifying Impacts on Education and Health in the Presence of Treatment Externalities.” Econometrica 72 (1): 159–217.
Ridha, M. Rasyid. 2014. “The Policy Control of Helminthiasis in Tapin Regency Kalimantan Selatan.” Jurnal Buski 5 (2): 67–74.
Sandi, Samuel, Sri Sunarni, dan Soeyoko. 2015. “Analisis Model Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Infeksi Kecacingan Yang Ditularkan Melalui Tanah Pada Siswa Sekolah Dasar Di Distrik Arso Kabupaten Keerom, Papua.” Media Litbangkes 25 (1): 1–14.
Silitonga, Mettison M, Untung Sudharmono, dan Masta Hutasoit. 2009. “Prevalensi Kecacingan Pada Murid Sekolah Dasar Negeri Di Desa Cihanjuang Rahayu Parongpong Bandung Barat.” MKB 41 (2).
WHO. 1991. Basic Laboratory Methods in Medical Parasitology. Geneve: WHO Press.
Winita, Rawina, Mulyati, dan Hendri Astuty. 2012. “Upaya Pemberantasan Kecacingan Di Sekolah Dasar.” Makara 16 (2): 65–71.
World Health Organization. 2012. “Soil-Transmitted Helminthiases: Eliminating Soil-Transmitted Helmnthiases as a Public Health Problem in Children.” Progress Report, 1–90.
Published
2020-03-06
How to Cite
Paisal, Budi Hairani, Erly Haryanti, & Listiana Indriyati. (2020). Dampak Tingginya Prevalensi TRICHURIS TRICHIURA Terhadap Kebijakan Pengobatan Massal Kecacingan Di Tiga SD di Kabupaten Tanah Bumbu. Jurnal Kebijakan Pembangunan, 12(1), 77-83. Retrieved from http://jkpjournal.com/index.php/menu/article/view/113